Interupsi Mewarnai Rapat Pleno Tatib Muktamar NU

263 views

2 muktamar nuSemeruSatu.com (Jombang): Rapat pleno Tata Tertib (Tatib) di Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang dimulai pukul 14.45 WIB diwarnai interupsi dari peserta, Minggu (2/8/2015).

Slamet Effendi Yusuf yang ditunjuk sebagai pimpinan sidang pleno, lalu menskors sidang, sambil mengumandangkan  Solawat Nabi untuk meredam suasana.‎ Namun saat sidang dilanjutkan malam hari, hujan interupsi masih terjadi.

Suasana memanas saat membahas Bab V Pasal 14 tentang Pimpinan Sidang. Sesuai draft yang dibagikan ke muktamirin, Pasal 14 menyatakan bahwa Pimpinan sidang ditetapkan oleh PBNU.

Pembahasan itu mendapat tanggapan berbeda dari muktamirin. Pihak yang setuju dengan draf panitia muktamar dimotori dari Bangka Belitung dan Jawa Timur.

“Muktamar itu diselenggarkan PBNU, jadi sudah selayaknya yang memimpin sidang pleno juga dari pengurus PBNU,” kata peserta dari Bangka Belitung saat menyampaikan pendapat dalam pleno tatib.

Sebaliknya dari pihak yang berseberangan, dimotori dari Sulawesi Selatan dan Papua menyatakan, Muktamar adalah forumnya muktamirin yang diselenggarakan PBNU. Sehingga pimpinan sidang pleno juga harus dipilih muktamirin.

Ada juga yang berposisi netral, seperti perwakilan dari Aceh dan Lampung yang meminta muktamirin menjaga kesantunan dalam berbicara, dan pembahasan pasal tatib.

“Muktamar alim ulama ini disiarkan langsung oleh beberapa televisi. Kami dapat banyak SMS dari kampung. Isinya mereka malu melihat wakilnya, alim ulama tidak santun dan tak menonjolkan akhlakul karimah saat menyampaikan pendapat,” kata perwakilan Lampung.

Peserta lain yang tak terima berusaha menyerbu peserta yang mengusulkan voting. Namun berkat kesigapan anggota Banser yang mengamankan jalannya sidang, peserta yang terbawa emosi bisa diamankan.

Perwakilan dari salah satu Pengurus Cabang asal Jatim mengusulkan win-win solution, yakni pimpinan sidang pleno tetap dipimpin PBNU. Namun setelah demisioner dan pemilihan rais aam serta ketua umum PBNU, pimpinan sidang diserahkan kepada muktamirin sebanyak 7 orang.

Sementara perwakilan Sulawesi Utara menawarkan agar pimpinan sidang dipilih dari dan oleh peserta yang terdiri dari unsur satu orang perwakilan PBNU sebagai ketua sidang, seorang lagi dari PW sebagai sekretaris dan seorang lagi dari perwakilan cabang menjadi anggota.

Namun kedua usulan win-win solution itu tidak langsung diamini Slamet Effendi Yusuf selaku pimpinan pleno tatib. “Usulan solusi dari Jatim dan Sulawesi Utara nanti akan dibahas dalam forum lobi yang melibatkan seluruh PW se-Indonesia,” kata Slamet.

Pertimbangannya, kata Slamet sesuai draft awal, pimpinan sidang pleno ditetapkan  PBNU, kecuali saat pemilihan rais aam dan ketua umum PBNU akan dipimpin perwakilan muktamirin dari zona barat, tengah dan timur.

“Karena itu sidang saya skors hingga pukul 20.00 WIB untuk sholat Asar dan lobi dengan seluruh PW se Indonesia,” ucapnya.

Sementara, malam ini, lanjutan pembahasan tatib yang dimulai pukul 20.30 WIB masih berlangsung alot. Saling interupsi terus terdengar. (viva/eru)

 

Category: Indeks Berita, Jatim