Tak Terima Gaji, Polisi Serbu Polrestabes Surabaya

789 views

6 PlrestabesSemerusatu.com (Surabaya): Polisi berbondong-bondong datang ke Sentral Pelayanan Masyarakat Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya, Kamis (6/8/2015). Kedatangan mereka merasa dirugikan karena tidak bisa menerima gaji secara utuh.

Polisi tidak bisa menikmati gaji utuh lantaran dipakai untuk melunasi utang pada bank. Ketika polisi mencoba menelusuri penyebab terpotongnya gaji ternyata telah ditipu oleh pegawai PNS di lingkungan Polrestabes, yaitu juru keuangan yang berinisial TI.

Korban penipuan serta penggelapan ini diperkirakan ada sekitar 10-20 anggota yang sedang dinas jajaran Polrestabes Surabaya.

Salah satu korban yang berhasil dikonfirmasi, bernisial AR, mengaku baru mengetahui gajinya tidak bisa cair beberapa hari lalu. Ketika mencoba mencari tahu, gajinya digunakan untuk membayar kredit yang tidak pernah diajukan. Dia pun langsung protes ke Mapolrestabes Surabaya. “Saya dan beberapa rekan sudah lapor ke SPKT Polrestabes,” kata  polisi itu.

Salah satu polisi berinisial AR sendiri mengakui kalau dirinya dulu pernah mengajukan kredit dengan anggunan SK. Tetapi ternyata, sebelum kredit diajukan ke bank, TI mengubah nominal pengajuan tanpa sepengetahuan dirinya.

AR ingat bahwa TI hanya menyodorkan berkas. Korban cukup mencantumkan nominal kredit dan membubuhkan tandatangan dalam berkas itu. Dari sinilah ketika mendapatkan dana pinjaman, uang sesuai pinjaman korban. Adapun sisanya dipakai TI.

AR juga mengatakan kalau modusnya tidak hanya itu saja. TI juga sengaja memalsukan berkas dan tandatangan korban. TI memanfaatkan berkas disertai tandatangan palsu ini untuk mengajukan kredit ke bank.

“Kalau saya, tandatangannya yang dipalsukan. Dia membuat surat kuasa yang tidak pernah saya tandatangani,”lanjut AR seperti dilansir dari laman beritajatim.com

AR tidak dapat memastikan jumlah korban dan kerugian yang dialami korban lainnya. Berdasar informasi yang diterimanya, korban TI menyebar di seluruh Polsek di bekas Polres Surabaya Selatan. Setiap Polsek ada sekitar 10-20 orang.

Bajhkan AR tidak mengetahui pemotongan gaji untuk pembayaran kredit palsu itu akan berlanjut pada bulan depan atau tidak. Bila pemotongan gaji tetap berlanjut, AR terpaksa tidak bisa menikmati gajinya lagi. “Semoga bulan depan masalahnya sudah selesai,” harap AR.

Tapi sayangnya ketika laporan tersebut dikonfirmasikan ke SPKT  Polrestabes Surabaya, wartawan justru mendapatkan teguran dari Kepala SPKT, Kompol M Mahmud. Selain tidak mau memberi keterangan, Mahmud juga minta wartawan meninggalkan SPKT.

“Disini bukan tempat wartawan. SPKT hanya untuk pelayanan, jika ada wartawan masuk ke SPKT maka sudah menyalai aturan, dan tidak sesuai SOP,” ujar Mahmud.

Sumber dari polrestabes menyatakan kalau kasus tersebut sudah dalam pemeriksaan dan untuk kejadian tersebut sudah berlangsung lama tepatnya pada tahun 2010, semenjak adanya Polres Surabaya Selatan. (eru)

Category: Headline, Indeks Berita, Polres