Satpol PP dan Polisi Gerebek Lokalisasi Dolly, PSK dan Mucikari Diamankan

732 views

25 dollySemerusatu.com: Meski sudah resmi ditutup Pemkot Surabaya pada Juni 2014 lalu, namun lokalisasi Gang Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan masih tak pernah sepi dari mucikari yang menawarkan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Buktinya Minggu (23/8) malam, Satpol PP yang diback-up Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, mengamankan 6 orang yang diduga praktek prostitusi di Wisma New Borneo.

Enam pelaku yang diamankan, tiga diantaranya adalah Sagito Darmaji (46), Sugianto (47), dan Siti Halimah (46). Mereka adalah warga Kupang Gunung Timur, Surabaya yang berperan sebagai mucikari. Sedangkan tiga pelaku lainnya adalah PSK.

Saat diamankan petugas, ketiga PSK tersebut sedang melayani tamu di dalam kamar wisma. “Saat dilakukan penggerebekan, para mucikarinya ada di dalam wisma. Sedangkan ketiga PSK-nya, berada dalam kamar dan masih melayani tamu,” kata Kasi Penindakan Satpol PP Kota Surabaya, Ndari, Selasa (25/8/2015).

Untuk kepentingan penyidikan, keenam orang (mucikari dan PSK) tersebut dilimpahkan ke pihak Polrestabes Surabaya, dalam hal ini Unit PPA. Sementara Wisma New Borneo, saat ini sudah disegel petugas. “Usai diamankan itu, mereka kami serahkan ke Polrestabes Surabaya. Karena ini murni tindak perdagangan manusia. Tugas kita (Satpol PP) hanya melakukan penertiban,” pungkasnya di laman beritajatim.com.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Takdir Mattanete membenarkan adanya penggrebekan tersebut. “Ini merupakan upaya kami dalam memberantas semua kegiatan prostitusi terselubung di Surabaya,” tandas Takdir di Mapolretabes Surabaya.

Gang Dolly dan Jarak, memang sudah ditutup. Namun, masih tetap beroperasi. Hanya saja tidak lagi dilakukan terang-terangan seperti saat sebelum dibombardir pemerintah setempat.

“Memang, penutupan sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya tahun lalu, tapi ternyata masih beroperasi. Hanya saja, saat ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi,” lanjut Takdir.

Sedangkan modus pelayanan esek-esek di lokalisasi Dolly itu sendiri,  masih kata Takdir, dua mucikari berdiri di pinggir jalan dan satu orang menjaga wisma. Mereka menawarkan gacoannya kepada setiap pengguna jalan yang melalui daerah bekas lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Kalau ada yang berminat, keduanya memberi ciri-ciri PSK-nya. “Mereka tidak menunjukkan foto PSK-nya, melainkan hanya menyebut ciri-ciri fisiknya saja. Untuk tarif sekali maun, PSK-nya dibandrol Rp 300 ribu,” paparnya.

Dari tarif itu, PSK menerima Rp 150 ribu, sedangkan Rp 150 untuk ketiga mucikarinya plus biaya kamar. “Setelah deal, satu dari dua mucikari yang di jalan ini menemui PSK-nya dan satunya lagi mengantar pelanggan ke wisma yang dijaga mucikari yang satunya dari pintu belakang. Wismanya memang sudah kosong, dan PSK-nya dikoskan di tempat lain, dan baru kalau ada pelanggan si PSK diantar ke wisma untuk melayani pelanggannya,” ungkap Takdir.

Sementara salah satu mucikari, Sugiono mengaku hanya memiliki lima PSK. Dan bisnisnya itu, baru berjalan tiga bulan. “Kalau lagi sepi pelanggan, PSK-nya saya tawarkan Rp 150 saja,” aku mantan mucikari Dolly yang kini kembali menggeluti bisnis haram tersebut.

Sedang AG, salah satu PSK, mengaku hanya sambilan saja. “Sebenarnya saya sudah kerja di salon. Cuma kalau ada job, saya ditelepon. Saya melakukan pekerjaan ini, karena gajinya per bulan, dan tidak bisa jajan tiap hari,” aku eks PSK Dolly asal Madiun ini.

Dia juga mengaku, sebelum Dolly dan Jarak dibombardir Pemkot Surabaya, AG mengaku tiap hari bisa memegang uang banyak dan mengirimnya ke desa. “Kalau dulu kan, tiap hari bisa pegang duit, dan bisa ngirim uang ke kampung tiap minggu, sekarang sudah tidak bisa lagi,” keluh Anggy. (eru)

Foto: PSK Dolly

Category: Indeks Berita, Polres