BNN Kota Surabaya Amankan Mucikari Pengguna Narkoba

863 views

7 narkobaSemeruSatu.com (Surabaya): BNN Kota Surabaya mensinyalir bila ada jaringan narkotika yang melibatkan mucikari. Dugaan ini muncul setelah mereka menangkap mucikari bernama Sunardi (44) warga Jalan Kupang Gunung Jaya, Surabaya, Jumat (28/8/2015). Sebelumnya, BNNK juga pernah menangkap dua orang mucikari yang positif memakai sabu-sabu.

Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti mengatakan, jajarannya saat ini sedang fokus untuk membongkar sindikat mucikari. Meski ditangkap pada waktu yang berbeda, namun ketiga mucikari itu kedapatan positif memakai narkoba di satu tempat. “Mereka sama-sama diamankan di kawasan Banyu Urip,” kata mantan Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya itu.

Para mucikari itu sendiri mengaku tidak mengedarkan obat-obatan terlarang tersebut. Meski demikian, BNNK terus akan memperdalam keterangan mereka. Pasalnya, mereka yakin bila para pengguna itu paham jaringan yang bermain di sana.

Penangkapan Supardi bermula dari adanya informasi yang menyebut, bila ada beberapa orang yang diam-diam memakai dan menjual sabu-sabu. Unit Berantas BNNK Surabaya kemudian berangkat memastikan kebenaran tersebut.

Sekitar pukul 02.30, mereka langsung menyasar beberapa orang yang sedang berdiri di pinggir jalan menawarkan jasa perempuan. “Ada dua orang yang kami ciduk,” kata Kanit Berantas BNNK Surabaya Kompol Dodon Priyambodo.

Ketiganya diangkut menggunakan mobil, kemudian diarahkan ke SPBU di sekitar Diponegoro. Di sana, mereka langsung disuruh untuk tes urin. Hasilnya, Urin milik Supardi positif mengandung zat metamfitamin yang terdapat pada sabu-sabu. “Yang seorang lagi kami lepas,” lanjut Dodon.

Di kantor BNNK Surabaya, Supardi mengelak jika dirinya dikatakan memakai sabu-sabu. Selama ini, dia hanya mengkonsumsi obat. Petugas kemudian memintanya untuk menunjukkan obat tersebut.

Didampingi kuasa hukumnya, mantan kasir wisma Barbara itu menunjukkan sebuah bungkus obat berwarna kuning yang biasa dia konsumsi. Setelah dicek oleh petugas, ternyata obat itu sudah ditarik izin edarnya oleh BPOM. Namun selama ini, Supardi mendapatkannya dengan mudah.

Dia kemudian diperiksa oleh dokter BNNK. Termasuk obat yang dibawanya. Hasilnya, obat itu mengandung ephedrine. Selama 13 tahun, dia rutin meminum obat itu sebagai penambah stamina. “Zat ini tergolong adiktif yang berbahaya dan bisa membuat jantung penggunanya berdebar-debar,” terang dr. Singgih Widi Pratomo.

“Ephedrine berfungsi sebagai obat penenang yang harus ada resep dokter,” lanjut Singgih. Pemberian zat ephedrine ini biasanya juga dipakai untuk pengganti sabu-sabu. Artinya, sebelum rutin mengkonsumsi obat itu, Supardi juga pernah mengkonsumsi sabu-sabu.

Sore kemarin, dia sudah dibawa ke RSAL untuk direhabilitasi. Lamanya penggunaan obat kemungkinan besar juga akan berpengaruh pada proses rehabilitasi. Untuk lebih pastinya, BNNK masih akan menunggu laporan tim dokter RSAL.

Sementara itu, kuasa hukum Supardi, Dimaz Aulia Rahman mengatakan, mendukung penuh langkah BNNK. Terutama terkait pemberantasan narkoba di kawasan merah. Menurutnya, kalau memang BNNK menemukan peredaran narkoba yang melibatkan jaringan mucikari, sesegera mungkin harus diberantas. “Pecandu narkoba seperti klien saya ini juga dipengaruhi lingkungan,” bebernya.

Selama proses rehabilitasi, dia akan turut membantu proses pemulihan Supardi. Dari pembicaraan dengan kliennya, Dimaz menyebut bila Supardi ingin pulih total. Dia memastikan bila Supardi tidak takut untuk direhabilitasi. (antok/eru)

Foto: Simulasi

Category: Indeks Berita, Narkoba