Kepala BNN Komjen Buwas: 150 Tahanan Narkoba Bisa Dieksekusi

352 views

11 buwas di bwiSemerusatu.com: Ada 150 tahanan kasus narkoba antri menunggu hukuman mati. Para napi narkoba itu tersebar di beberapa lapas yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah gembong narkoba Fredy Budiman. Meski tiga kali kesandung kasus yang sama dan dijatuhi vonis serupa, sampai saat ini masih belum menjalani eksekusi. Penyebabnya menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso (Buwas), akibat hukum di Tanah Air yang belum berjalan sesuai harapan.

“Fredy yang sudah tiga kali divonis mati belum mati juga,” ujarnya saat mengikuti Halaqoh Nasional tentang bahaya narkoba, terorisme dan radikalisme di Graha Bhakti Genteng, Senin (11/1/2016) sore, yang dihadiri Kepala Desa dan Ranting NU se-Banyuwangi, Jawa Timur.

Buwas berharap, tahun ini semua tahanan narkoba bisa menjalani eksekusi. Termasuk tahanan narkoba asal luar negeri. Sebab, BNN akan berkoordinasi dengan Kemenkumham sebagai pemegang kebijakan.

“Maunya tahun ini sudah selesai semua,” lanjutnya saat diwawancarai wartawan usai mengikuti Sambung Hati di Pondok Pesantren Darussalam, Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, sebelum pertemuan di Graha Bhakti.

Jenderal Polisi berbintang tiga menegaskan, angka penyalahguna narkotika sesuai data Juli 2015 mencapai 4,2 juta orang. Pada November 2015 angka itu membengkak menjadi 5,9 juta jiwa. Dari angka ini 31-40 orang meninggal dunia akibat narkoba. Pemicunya hukum bagi penyalahguna narkoba di negeri ini belum membuat efek jera.

“TNI, Polri, penegak hukum bahkan anggota BNN ada yang terkontaminasi narkoba. Warga Desa juga banyak yang pakai. Bahkan narkoba juga telah masuk pesantren,” tandasnya.

Indonesia merupakan pangsa pasar narkoba paling menjanjikan di wilayah Asean. Saat ini terjadi regenerasi pangsa pasar yang menyasar anak TK dan SD. Prakteknya disebarkan melalui makanan dan minuman ringan.

“Orang kalau sudah kecanduan sarafnya rusak secara permanen. Langkah rehabilitasi hanya menjauhkan sementara. Makanya, penyalahguna narkoba bila sudah kecanduan susah sekali sembuh,” kata Buwas.

Cina dan Thailand merupakan pengimpor narkoba terbesar. BNN pernah menyita 3 ton narkoba yang hendak di pasarkan di dalam negeri. Ternyata angka itu cuma 20 persen dari narkoba yang telah beredar di pasaran.

“Satu-satunya cara menanggulangi narkoba adalah dengan menolak membelinya. Sehingga berapapun besar produksi sabu maupun ekstasi dan sejenisnya tidak akan laku jika tiada warga yang berminat,” tegas mantan Kabareskrim Mabes Polri ini.

Komjen Buwas menambahkan, ada indikasi penjajahan mental anak bangsa yang dilewatkan narkoba. Kasus ini mengingatkan peristiwa penjajahan Inggris atas Cina yang memasukkan candu kepada penduduk Tionghua sampai kecanduan. Imbasnya dengan mudah Inggris menguasai bangsa Cina.

“Dugaan itu dikuatkan dengan penangkapan bandar narkoba asal luar negeri. Tidak satupun bandar besar yang tertangkap urine maupun rambutnya yang terpapar narkoba. Pemeriksaan yang dilakukan selalu clean. Mereka tidak pakai, cuma jualan. Ini berarti ada indikasi perusakan moral anak bangsa yang dilakukan asing,” tegasnya.

Acara Sambung Hati yang digelar di Ponpes Darussalam Blokagung ini diikuti sejumlah tokoh agama, ormas dan para pengasuh pesantren. Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama, Dandim 0825 Letkol Robby Bulan, Danlanal Letkol (laut) Wahyu P. Indrawan, Pj Bupati Banyuwangi Zarkasi dan sejumlah unsur forpimda lain mengikuti kegiatan ini bersama Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. (bwi/eru)

Foto: Kegiatan Sambung yang digelar di Banyuwangi

Category: Headline, Indeks Berita, Indonesia, Narkoba