Perangi Teroris, Menkopolhukam: Ajak Warga Jadi “Spion”

378 views

11 Sambung Teroris Libas BanyuwangiSemerusatu.com: Masalah terorisme di Indonesia yang belakangan kian meresahkan tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal (purn) Luhut Binsar Panjaitan mengajak warga Banyuwangi untuk menjadi ‘spion’.

“Teroris itu mencemarkan nama baik islam. Polisi maupun BIN telah menangkap sejumlah pelaku terorisme. Warga bisa menjadi mata dan telinga aparat dalam menanggulangi masalah terorisme. Artinya mau peduli terhadap masalah ini,” katanya kepada para tokoh agama, ormas, serta pengasuh pesantren dalam rangka Sambung Hati di Ponpes Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (11/1/2016).

Menurutnya, penyelesaian masalah terorisme di nusantara tidak perlu meniru cara Arab Saudi. Indonesia memiliki cara yang lebih arif dengan melakukan pendekatan sektoral, misal di pesantren.

“Rasanya ini jauh lebih efektif untuk menangani dan menanggulangi masalah terorisme. Pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki kekuatan dan pengaruh dalam menanggulangi terorisme,” ujarnya.

Terkait persoalan paham radikal, menurut Luhut, sepanjang tidak membuat gaduh dan kerusuhan sebenarnya tidak soal. Demi mencegah kisruh antar agama maupun aliran keagamaan semua elemen diminta untuk menahan diri.

“Paham radikal tidak hanya ada dalam islam. Di agama lain semisal nasrani juga ada. Untuk itu mari saling menahan diri,” harap menteri yang dekat dengan Gus Dur.

Diharapkan, para santri yang menimba ilmu di pesantren diminta tidak hanya berkutat dengan dunia pondok. Lulusan pesantren mesti bisa berkiprah di dunia yang lebih luas menghadapi pasar bebas.

“Jangan pulang dari pesantren, terus kembali ke daerah masih seperti ini. Kalian bisa lebih maju, karena banyak lulusan pesantren yang memiliki otak cerdas berkiprah di ranah umum,” kata Menkopolhukam.

Pendidikan agama memang penting. Itu menjadi dasar dalam menjalani kehidupan dalam masyakarat. Namun memiliki hati yang baik dan jujur jauh lebih penting.

“Kalau mau jadi orang ingat kata-kata saya. Lakukan agar kalian jadi orang. Saya jadi begini juga karena dipercaya orang,” sarannya kepada santri Blokagung.

Mengenai terorisme, Ketua Ponpes Darussalam KH Ahmad Munif Safaat memiliki cerita sendiri. Dia mengakui aksi teror itu juga masuk di wilayah pesantren Blokagung. Tapi teroris itu berwujud terong yang diiris-iris.

“Ada juga teror yang masuk ke pondok. Yakni teror para istri agar para kiai dan ustad tidak beristri lagi,” ungkapnya berkelakar.

Sementara, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menceritakan, tafsir tahlil pancasila. Ungkapan ini menyikapi sejumlah ormas yang didirikan tidak dilandasi paham yang telah dijadikan sebagai dasar negara. Bagi Gus Ipul, tahlil itu merupakan gambaran yang tepat tentang pancasila.

“Dalam tahlil yang dibaca salah satunya surat Al – Ihlas. Empat ayat itu menandakan tentang ketuhanan Yang Maha Esa yang masuk butir pertama pancasila,” ujarnya.

Semua warga tanpa mengenal suku dan agama boleh ikut. Asalkan dia mau, warna NU tidak melarang. Cara ini menandakan sila kedua Pancasila, kemanusian yang adil dan beradab.

Begitupun dengan sikap duduk bersila semua peserta tahlil. Pejabat maupun rakyat biasa duduk satu sikap dengan dua kaki dilipat. Itu menandakan kemanusian yang adil dan beradab.

“Cara memilih pemimpin tahlil juga begitu. Warga langsung menunjuk tokoh yang dianggap mampu tanpa melalui voting kayak partai politik yang malah ruwet. Cara ini merupakan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan serta perwakilan,” tukas Gus Ipul.

Kegiatan tahlil biasanya ditutup dengan pembagian berkat yang dibagi rata kepada peserta. Gambaran ini menjadi simbol tentang sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (bwi/eru)

 

Category: Headline, Indeks Berita, Indonesia