Marwah Daud Ibrahim Menyesal

65 views

Semerusatu.com: Ketua Yayasan Keraton Kasultanan Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, Marwah Daud Ibrahim yang diperiksa di Ditreskrimum Polda Jawa Timur, akhirnya menyesal dua pengikut Taat Pribadi Dimas Kanjeng dibunuh.

17 marwah Daut okk“Untuk kami, menyesalkan kejadian itu. Ya harusnya kan ngomong kemaslahatan dan kemajuan bangsa. Menurut saya itu sebuah kecelakaan. Ya kami berduka,” kata Marwah Daud usai diperiksa penyidik, Senin (17/10/2016).

Apakah juga ditanya penyidik atas kejadian itu (pembunuhan)? “Tidak,” tandas Marwah.
Marwah juga mengatakan, apabila ada pengikut atau santri yang minta uangnya dikembalikan, diakui dikembalikan. “Kalau minta dikembalikan yang dikembalikan,” ujarnya.

Namun yang terjadi pada pengikut minta uangnya dikembalikan seperti Ismail Hidayah dan Abdul Gani justru mengalami hal yang tragis. Ismail diculik saat menuju shalat Maghrib di masjid dekat rumahnya dan mayatnya dibuang. Sedang Abdul Gani diculik dan dibunuh lalu mayatnya dibuang ke waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jateng oleh Wahyudi Cs, yang kini perkaranya sudah di Kejari Probolinggo.

Apakah ibu yakin atas keterlibatan Taat Pribadi di balik pembunuhan Ismail dan Abdul Gani. “Saya tidak yakin. Cara bertutur beliau (Taat) itu bagus dan tujuannya untuk kemaslahatan umat,” lanjut Marwah.

Marwah mengakui, bahwa  jika dirinya memberi mahar saat pertama kali masuk. Namun jumlahnya berapa? Perempuan asal Sulsel itu tidak menjelaskan secara gamblang. “Cuma sedikit. Itu kan sama dengan pendaftaran saat masuk organisasi. Bedanya disini (Padepokan) itu mahar dan organisasi adalah pendaftaran,” kata Marwa.

Ketika didesak apakah ada janji kapan uang mahar dikembalikan pada santri? “Tidak ada janji seperti itu. Tujuan utama keraton adalah untuk kemaslahatan umat. Kan para santri dari berbagai daerah agar mengusulkan program yang ada. Seperti gaji guru mengaji yang selama ini kurang diperhatikan akan diperhatikan,” jelasnya.

Dalam pemeriksaan ini, Marwah dicecar sekitar 30 pertanyaan seputar yayasan keraton yang dipimpinnya mulai 11 Agustus 2016.   Ketika didesak terkait aliran dana, Marwah mengaku tidak ada dalam pemeriksaan.

Kepada pengikut Dimas Kanjeng yang masih bertahan di Padepokan, Marwa meminta agar bersabar dan mengikuti proses hukum yang sedang berjalan. Dia juga berharap publik tidak menjustifikasi buruk Padepokan Dimas Kanjeng sebelum ada keputusan hukum tetap. “Kami semua mencari kebenaran. Kami tunggu ketetapan hukum dulu,” tegas Marwah. (eru)

Foto: Marwah Daud

Category: Headline, Indeks Berita, Polda