Taat Pribadi Dimas Kanjeng Dijerat TPPU, Penyidik Baru Periksa 40 Saksi

61 views

Semerusatu.com: Taat Pribadi Dimas Kanjeng akan lebih lama lagi hidup di balik terali jeruji besi  Mapolda Jawa Timur. Begitu diduga  sebagai “gembong” pembunuhan dan penipuan, penyidik Ditreskrimum Polda Jatim bakal menjerat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

7 Kabid 2Untuk kasus TPPU, penyidik bakal menguak dari mana dan kemana saja aliran uang yang diperoleh Taat Pribadi, yang konon mencapai triliunan rupiah. Karena pasca penangkapan Taat di Padepokannya di Dusun Sumber Cengkele, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur banyak disita aset yang disinyair dibeli dari hasil menipu dengan modus penggandaan uang.

Barang-barang yang disita yakni, bengkel, supermarket, gudang, beberapa sertifikat sawah, rumah di area padepokan yang lahannya sekitar 6 ha. “Ini yang tengah ditelusuri penyidik dari mana uang untuk membeli barang bukti yang disita itu,” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes RP Argo Yuwono, Kamis (17/11/2016).

Apabila harta itu diakui peninggalan orang tuanya harus dibuktikan. Tentunya pembuktian itu tidak hanya dibuktikan dengan omongan Taat saja, tetapi dibuktikan dari pihak lain. “Misalnya soal tanah, kan ada asal usulnya,” lanjutnya.

Untuk menguak dugaan uang itu diperoleh dari para pengikutnya, penyidik baru memeriksa 40 saksi yang nota bene adalah pengikut  di Padepokan Dmas Kanjeng. “Memang yang sudah diberi surat panggilan sebagai saksi 70 orang, tapi yang sudah memenuhi panggilan baru 40 orang saksi,” katanya.

Dalam kasus TPPU, kata Kombes Argo-sapaan akrabnya, penyidik masih belum menentukan Taat sebagai tersangka. “Status Taat Pribadi masih sebagai saksi,” jelasnya.

Taat berurusan dengan hukum setelah ditangkap petugas gabungan di Padepokan, 22 September 2016. Pimpinan sekaligus pemipik Padepokan Dimas Kanjeng ditangkap karena dituduh sebagai otak pembunuhan dua pengikutnya Ismail Hidayah asal Situbondo dan Abdul Gani, asal Probolinggo.

Tak lama kemudian, Taat ditetapkan lagi sebagai tersangka penipuan dengan modus penggandaan uang. Jumlah yang melapor cukup banyak, di antaraya keluarga almarhum Hj Najmiah dari Makassar dengan kerugian Rp 200 miliar, M Ali dari Kudus, Jateng senilai Rp 35 miiar, Suprayitno asal Jember Rp 830 juta dan Suparman asal Ponorogo Rp 4 miliar. (eru)

Category: Headline, Indeks Berita, Polda