Kapolri: Sudah Mendeteksi Indikasi Pemufakatan Jahat Menuju Makar

82 views

Semerusatu.com: Sudah jauh-jauh hari mendeteksi indikasi pemufakatan jahat menuju makar dengan menunggangi massa Aksi Damai 212, demikian ditegaskan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan kepada Anggota Komisi III DPR RI, Senin (5/12/2016).

19 ok broMenurut Kapolri, ada kelompok yang berniat mengambil massa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) kemudian dibawa ke DPR untuk menduduki DPR, mendesak DPR agar melaksanakan Sidang Umum Istimewa dan setelah itu ujung-ujungnya adalah pemakjulan atau menjatuhkan pemerintah yang sah.

“Ini sudah kami dapatkan dari kegiatan-kegiatan intelijen kami. Oleh karena itulah, pada kesempatan di Mabes Polri saya menyampaikan bahwa ada indikasi pemufakatan jahat menuju makar,” kata Jenderal Pol Tito Karnavian saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta.

Kapolri mengaku hal itu sengaja disampaikan sebelum Aksi Bela Islam III dilakukan. Dan itu disampaikan bukan kepada massa GNPF yang murni melakukan aksi untuk proses hukum dan penahanan tersangka kasus penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Tapi ditujukan untuk memberikan pesan kepada kelompok yang ingin melakukan makar.

“Sebetulanya adalah berusaha untuk menyampaikan pesan itu, bahwa kami tahu Anda, kira-kira begitu, tolong hentikan, jangan manfaatkan massa GNPF yang murni tuntutannya adalah masalah proses hukum Saudara Basuki Tjahaja Purnama,” tegas Jenderal Tito Karnavian.

Selain itu, Kapolri juga mengungkapkan, bahwa pihaknya telah melihat bahwa kelompok yang akan melakukan makar ini cukup intens mengkooptasi GNPF.

Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan dialog dengan GNPF. Meminta komitmen apakah aksi yang akan dilakukan murni tuntutan proses hukum atau ada agenda politik lain. Hasil dialog, GNPF menegaskan kegiatannya murni tuntutan proses hukum terhadap Ahok.

Setelah mendapat komitmen itu, Kapolri lantas meminta agar aksi yang sebelumnya akan dilaksanakan di sekitar jalan protokol Sudirman-Thamrin, Jakarta, dipindahkan ke tempat lain.

“Kami sudah membaca, kalau mereka menggunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan jumlah massa yang besar, ekornya nanti akan ada di DPR/MPR. Ekornya nanti akan masuk sampai Semanggi, sampai ke Patung Senayan, belok dia ke depan (Hotel) Mulia, dan seterusnya sampai ke belakang DPR. Yang berikutnya nanti naik Semanggi sampai dengan depan MPR. Dan itu akan, trigger sedikit saja, akan mudah sekali jumlah massa yang besar itu akan rawan sekali,” jelas Kapolri.

Kemudian, Kapolri sebenarnya menginginkan supaya aksi dipusatkan di Masjid Istiqlal. Namun, belajar dari aksi sebelumnya 411, pimpinan GNPF menjelaskan bahwa di Istiqlal dengan jumlah massa yang besar akan rawan kecelakaan, massa bisa berdesak-desakan dan terinjak-injak.

“Sehingga disepakati tempatnya di Monas. Perkiraan kami di Monas tempat ini cukup luas, bisa menampung. Kemudian yang kedua lebih mudah untuk dikontrol,” ujar Kapolri. (eru/tbn)

 

Category: Forum, Headline, Indeks Berita