Terkait OTT, Polda Jawa Timur Tetapkan Camat Kedundung Sampang Madura Jadi Tersangka

61 views

Semerusatu.com: Nasib Camat Kedundung, Kabupaten Sampang, A Junaedi (AJ) yang diduga terlibat pemotongan dana Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) di beberapa desa, setelah Operasi Tangkap Tangan (OTT), akhirnya ditetapkan dari saksi menjadi tersangka, ini hasil gelar perkara penyidik Ditreskrimum Polda Jawa Timur.

14 kabid 1Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Rabu (14/12/2016) mengungapkan, sebelumnya Camat A Junaedi sudah diperiksa sebagai saksi, Kamis (8/12/2016) hingga larut malam. Beberapa barang bukti mulai dokumen pencairan ADD dan DD, tiga ponsel dan 3 buku tabungan milik Junaedi dan istrinya diamankan penyidik.

“Setelah diperiksa, tersangka AJ saat itu dipulangkan karena dinilai kooperatif dan tidak akan  menghilangkan barang bukti,” lanjut Kombes Barung.

“Statusnya masih terperiksa. Tapi penyidik pada Selasa (13/12) atau Rabu (14/12) akan gelar perkara untuk menentukan status Camat Junaedi,” ujarnya.

Dari beberapa bukti yang disita penyidik, sekali lagi, akhirnya status Camat AJ dari saksi sebagai tersangka.

Sebelum diperiksa penyidik, ruang Kantor Camat Kedundung diobok-obok penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim. Dalam penggeledahan itu, penyidik mengamankan tiga ponsel  milik A Junaedi. Selain itu, penyidik juga membawa beberapa dokumen terkait ADD dan DD se-Kecamatan Kedundung.

Rupanya, penggeledahan tak hanya dilakukan di kantor camat saja. Namun penggeledahan dilanjutkan ke rumah Camat Junaedi di  Desa Torjun.  Lanjut penyidik mengamankan empat buah buku tabungan. Tiga buah buku tabungan atas nama  Junaedi dan satu buah buku tabungan atas nama Khotijah istri Junaedi.

Dalam kasus OTT yang digelar di halaman Bank Jatim Cabang Sampang dan menemukan uang Rp 1,5 miliar, Kombes Barung tidak mau berandai-andai siapa saja yang bakal diperiksa. “Pokoknya siapa saja yang terlibat akan diperiksa. Tunggu saja sampai pemeriksaan rampung,” lanjutnya.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Kecamatan Kedundung , KH yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah “kunci” untuk menguak potongan uang ADD dan DD. Karena ada dugaan tersangka tidak bekerja sendiri untuk memotong uang dari APBN yang digelontorkan ke seluruh desa di Kecamatan Kedundung.

Dari alur pencairan dan usulan untuk memperoleh ADD dan DD dari pusat, diindikasikan ada “syarat-syarat” tertentu yang harus dipenuhi oleh desa. Namun potongan yang dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Kedundung cukup besar antara 60 sampai 70 persen, sehingga persoalan itu langsung mendapat respons dari Polda Jawa Timur.

Potongan yang dilakukan Kun Hidayat (KH) untuk dana ADD alasanya untuk pajak, papan nama, RAB Desain, Spj ADD, materai, prasasti dan foto. Sementara, potongan untuk dana DD juga dalihnya pajak, PKK, hutang Dayat, hutang camat, pelatihan, prasasti, foto, usulan DD, SPJ DD,  entry pajak dan Porkab.

Sesuai data desa yang dipotong untuk ADD pada pencairan 5 Desember ada tiga desa. Ketiga desa itu adalah, Desa Rabasan, dananya 132,8 juta dipotong Rp 54,7 juta sehingga hanya menerima Rp 78,1 juta. Desa Kramat, dananya Rp 118,6 juta dipotong Rp 65 juta sehingga dana yang diterima cuma Rp 53,6 juta. Desa Nyeloh, dana yang ada Rp 139,4 juta dipotong Rp 118,2 juta sehingga dana yang diterima cuma Rp 21,2 juta.

Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) yang dibentuk Ditreskrimsus Polda Jatim, menangkap kades beserta perangkat desa dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di halaman Bank Jatim Cabang Sampang Jalan Wahid Hasyim.

Penangkapan yang dilakukan Subdit Tipikor Polda Jatim, mulai Senin (5/12/2016) lalu sekitar pukul 15.15 WIB, mengamankan 7 orang. Mereka diduga kuat terlibat tindak pidana korupsi atas pemotongan ADD dan DD Kecamatan Kedundung, Sampang.

Setelah penyidikan dilakukan hanya Kun Hidayat yang ditetapkan sebagai tersangka. Enam orang lainnya dipulangkan tapi wajib lapor dua kali dalam sepekan (Senin-Kamis). (eru)

Category: Headline, Indeks Berita, Polda