Terkait Merkuri Ilegal, Modal Rp 600 Juta – Dijual Rp 1,2 Miliar – Keuntungan Rp 600 Juta

2 views

Semerusatu.com: Terkait Merkuri Ilegal, demikian yang dilakukan oleh tersangka berinisial  S (57) warga Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon, Maluku, karena memproduksi serbuk berbahaya jenis merkuri atau air raksa dengan modal Rp 600 juta. Pria gempal itu,  kini diamankan oleh anggota Subdit IV Tipidter, Ditreskrimsus, Polda Jatim berikut  sejumlah barang bukti.

Modal kamu berapa bisnis  merkuri ilegal? tanya Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin didampingi Irwasda Kombes Wahyudi Hidayat, Kabid Humas Kombes Frans Barung Mangera dan Dirreskrimsus Kombes Agus Santoso, Senin (2/10/2017). “Langsung dijawab oleh tersangka S, bahwa modal dasar Rp 600 juta dan keuntungan saya juga Rp 600 juta karena barang itu saya jual laku Rp 1,2 miliar,” kata tersangka S menjawab pertanyaan Kapolda Jatim itu.

Sebagaimana diketahui, kasus itu diungkap polisi berdasarkan informasi masyarakat soal adanya aktivitas pengolahan serbuk merkuri di Desa Jlodro, Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Pada Minggu malam, 24 September 2017, petugas melakukan penyelidikan dan penggerebekan di lokasi. S dan barang bukti diamankan.

Dalam beraksi, S mendatangkan batu cinnabar dari Seram, Maluku Barat, melalui jalur laut. Sampai di Surabaya, Cinnabar itu lalu diangkut ke Tuban untuk diolah. Tuban dipilih sebagai lokasi produksi karena banyak tersedia batu gamping. Selain gamping, bahan lain untuk merkuri ialah serbuk besi dan residu.

Bahan-bahan itu lalu dibakar hingga kemudian jadi merkuri dan air raksa. S mengaku tahu cara membuat merkuri secara otodidak. “Belajar saat bekerja di Sukabumi,” katanya saat ditanya Kepala Polda Jatim, Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin, di halaman kantornya, Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 2 Oktober 2017.

S mengaku baru sekali ini usaha merkuri dan langsung tertangkap. Dia mengaku terjepit masalah ekonomi. Pria berkumis putih itu mengaku punya tanggungan menghidupi lima anak. Tentu saja, polisi tidak langsung percaya dengan dalih S itu.

Irjen Machfud mengatakan, merkuri biasa dipakai untuk kepentingan pertambangan, terutama tambang emas. “Biasanya dipakai untuk memisahkan dan mengetahui emasnya. Tapi merkuri ini berbahaya dan sudah diatur soal larangan menggunakan bahan ini,” tandas Kapolda.

Machfud menuturkan, S memasarkan merkuri buatannya tidak hanya di Jatim, tapi juga ke daerah-daerah tambang di luar Jawa. Bisnis merkuri memang menggiurkan, keuntungannya dua kali lipat dari modal. “Modal enam ratus juta, misalnya, nanti kalau sudah jadi merkuri, dijual jadi Rp1,2 miliar,” katanya.

Semua barang bukti bahan-bahan merkuri dan peralatannya sudah diamankan polisi, termasuk 9,7 ton batu cinnara yang terbungkus tas kertas kecil volume 20 kilogram. Tersangka S dijerat dengan Pasal 161 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. (eru)

Category: Headline, Indeks Berita, Polda