Aplikasi Online, SPKT Polda Jawa Timur Gulirkan Surat Keterangan Orang Terlantar

3 views

Semerusatu.com: Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jawa Timur membuat inovasi guna meningkatkan pelayanan publik berbasis  Good Government, khususnya pelayanan terhadap orang  terlantar. Hal ini dikarenakan intensitas masyarakat yang datang ke SPKT Polda Jatim untuk minta surat keterangan orang terlantar, cukup tinggi, 70 orang hingga Oktober 2017.

Kepala SPKT Polda Jatim AKBP Andre Manuputhi menjelaskan, pihaknya membuat aplikasi online system penerbitan SKOT (Surat Keterangan Orang Terlantar). Dengan sistem ini, lebih efektif dan efisien dalam pelayanan terhadap masyarakat yang melapor atau membutuhkan bantuan.

“SKOT online itu surat keterangan orang terlantar online. Jadi kalau sebelumnya sendiri sendiri, dia datang buat keterangan disini (SPKT), lalu ke Dinas Sosial didata lagi,” jelasnya, Selasa (10/10/2017).

Dengan penerapan SKOT ini, tambah AKBP Andre, pihaknya akan melayani orang terlantar ini, dari mulai kantor SPKT, lalu dihubungkan ke Dinas Sosial, kemudian cek data kependudukannya. Lalu di distribusikan orang tersebut ke daerah domisili sesuai KTP hingga ke tempat tujuan dimana dia berasal.

“Jadi dia datang kesini buat laporan, kami antar ke Dinas Sosial. Kami cek jadwal sesuai dengan yang ada di terminal atau di pelabuhan, kalau umpamanya jadwalnya tidak ada, masih ada penampungan di Dinas Sosial untuk tinggal sementara,” lanjutnya.

Karena selama ini, orang terlantar yang dipulangkan, hanya diantarkan pihak Dinsos hingga terminal atau pelabuhan saja. Bahkan mereka hanya mendapatkan biaya pulang. Namun sayangnya bagaimana kondisi yang bersangkutan ketika tiba didaerah asal, tidak diketahui. Sehingga dengan aplikasi ini, polisi turut terlibat untuk memulangkan orang terlantar.

“Sampai di terminal daerah tujuan, dia nanti dijemput oleh SPKT Polres setempat, kemudian diantar ke RT untuk melapor, itu harus didokumentasikan,” paparnya.

Selain itu, kerjasama dengan kepolisian ini juga sekaligus menghindari modus modus orang yang mengaku terlantar, namun memanfaatkan biaya yang diberikan oleh Dinsos. Bahkan polisi mencatat, dana pemulangan orang terlantar, juga ada yang digunakan sebagai mata pencaharian.

“Mereka tahu kalau Dinas Sosial ada biaya untuk kembali ke daerah asal bagi orang terlantar, sehingga dia minta uangnya, dia beli tiket, jadi seakan akan calo, dia jual lagi. Atau untuk bepergian kesana kesini secara gratis,” imbuhnya.

Penerapan SKOT tersebut juga bekerjasama dengan berbagai instansi, selain Dinsos, yakni Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kependudukan Jatim, Dishub Jatim, Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Dishub Kota Surabaya, Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, dan DPD Organda Jatim. “Bisa lebih singkat, lebih tepat sasaran, efektif dan efisien, kepastian jadi lebih ada,” tegasnya. (eru)

Category: Headline, Indeks Berita, Polda