Maladaptive Parenting

Timang-timang anakku sayang

Jangan menangis Bapak disini
Timang-timang anakku sayang
Jangan menangis Bunda menyanyi

Lagu ciptaan Anang Hermansyah tersebut sangat tepat kita nyanyikan untuk buah hati kita, namun tulus terangkai pada tiap kalimatnya luapan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

Betapa nikmat dan nyamannya ketika bayi berada dalam buaian, ditimang dalam dekapan. Hangat dan  damai. Tidur bayi akan lebih nyenyak dan lama karena telinganya langsung mendengar irama musik alami denyut jantung ibu yang mengalun teratur. Kehangatan akan selalu terjaga, tidak perlu cemas akan terjadi hipotermi(suhu tubuh dibawah normal), karena kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu, panas tubuh ibu akan serta merta mengalir ke tubuh bayi juga. Namun kenyataanya tidak semua bayi mendapatkan kasih sayang dan rasa nyaman yang selayaknya dari orang tua khusunya ibu, karena suatu saat bisa terjadi ketidakmampuan orang tua untuk melaksanakan perannya yang ideal sebagi orang tua.

Pada masa post partum kadangkala terjadi suatu keadaan dimana peran orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya dimana  orang tua terlalu mengharapkan bayinya dapat memberikan respon yang sebenarnya belum mampu diberikan oleh bayi. Keadaan inilah  yang disebut dengan maladaptive parenting.

Menurut Kamus bahasa Inggris ; Mal berarti rusak, adopt berarti menyesuaikan dan parent berarti orang tua. Sehingga maladaptive parenting bisa diartikan sebagai proses penyesuaian orang tua yang buruk kepada anak.

Untuk menjadi orang tua yang ideal bagi bayi setidaknya ada dua komponen yang harus dikuasai. Komponen pertama adalah kemampuan yang bersifat praktis (ketrampilan Kognitif-Motorik) yang meliputi : ketrampilan memberi makan, menggendong bayi, mengenakan pakaian, membersihkan bayi, menjaga dari bahaya, dan memungkinkan bayi untuk bisa bergerak. Komponen kedua yang bersifat emosional (ketrampilan Kognitif – Afektif) meliputi sikap lembut, waspada dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan bayi.

Penyebab terjadinya maladaptive parenting terjadi tidak sepenuhnya bersumber dari orang tua, keadaan dari sang bayipun bisa menjadi penyebabnya.

Faktor Orang tua :
Perubahan hormonal yang terjadi karena implikasi dalam perkembangan psikologi telah berubah selama masa nifas.
Penyakit psikologi atau penyalahgunaan narkoba. Ibu tidak akan mampu memberikan asuhan pada bayinya bahkan seringkali untuk memenuhi kebutuhannya sendiri ibu harus dibantu atau tergantung orang lain.
Alasan social  dan persoalan lainya untuk menolak keberadaan bayi tersebut. Adanya kerusakan hubungan personal, kurangnya dukungan keluarga, factor kemiskinan, tidak mempunyai tempat tinggal dan rasa percaya diri ibu yang rendah.

Ketertarikan maternal terhadap diri sendiri. Hal ini ditunjukkan ketika ibu mengidentifikasikan secara langsung atau tidak langsung bahwa bayinya diharapkan untuk tidak mengubah gaya hidup ibu seperti masa prakehamilan bagaimanapun caranya.

Factor bayi :
Disability pada bayi. Adanya kebutaan, tuli atau cacat kongenital lainnya.
Bayi prematur. Dapat menimbulkan masalah dalam interaksi dengan orang tuanya, terutama jika bayi perlu dirawat di ruang khusus terpisah dengan ibunya.
Untuk mengenali maladaptive parenting maka kita harus mengetahui tanda dan gejalanya. Yaitu :
        Memberikan bayi dengan jumlah dan tipe makanan yang tidak sesuai.
        Tidak memeluk bayi atau menggendong bayi dalam posisi yang tidak nyaman
        Memandang bayi sebagai sesuatu yang menyebalkan.
        Tidak mampu mengenali tanda atau ekspresi bayi, contohnya bayi menangis karena lapar, mengantuk atau kencing.
        Tidak memberikan lingkungan yang tenang atau jadwal istirahat yang konsisten pada bayi.
        Tidak menunjukkan inisiatif dalam berupaya memenuhi kebutuhan atau masalah.
        Tidak memenuhi bayi akan makanan, kehangatan dan lingkungan yang tenang.
Apabila kita mendapati tanda tersebut pada diri kita maka jangan langsung berputus asa dan memvonis diri bahwa kita telah gagal menjadi orang tua. Untuk menjadi orang tua yang ideal tidak hanya dapat diraih dengan bekal ilmu yang cukup tapi perlu suatu proses untuk belajar dan terus belajar.

Tidak ada salahnya meminta bantuan dan dukungan dari keluarga khusunya pasangan supaya proses pencapaian peran tersebut menjadi lebih mudah. Harus diyakini bahwa saat ini adalah masa yang baik untuk membangun relasi dengan bayi, walaupun pada awalnya sulit. Fasilitasi ibu supaya dapat merawat bayinya dengan rasa aman dan penuh percaya diri. Ajari ibu bagaimana cara merawat bayi yang benar dan penuh kasih sayang. Anjurkan supaya ibu tetap mau memberikan ASI dan mengenali perilaku bayinya. Yakinkan  untuk terus mengembangkan keinginannya menjadi orang tua. Namun jangan menunda apabila dirasa perlu konsultasi ke tenaga kesehatan.

Adalah hak dari setiap anak untuk mendapatkan asah, asih dan asuh yang selayaknya dari kedua orangtuanya. Dan akan sangat berdosa jika kita tidak melaksanakan peran sebagai orang tua sebaik mungkin, karena anak adalah aset bangsa, karena anak adalah harta yang paling berharga, karena anak adalah amanah dari Yang Kuasa.

Oleh :
Rahajeng Siti Nur Rahmawati
Staf Pengajar Poltekkes Kemenkes Malang
Prodi Kebidanan Kediri