Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Pada Siswa, Pemkot Kediri Gandeng Guru Dalam Workshop Kesehatan

Kediri ( semerusatu.com )–Guru menjadi perpanjangan tangan Pemerintah Kota Kediri dalam upaya preventif dan deteksi dini gangguan penglihatan pada anak usia sekolah. Untuk itu, hari ini Jumat (18/11) melalui Dinas Kesehatan menggelar workshop kesehatan indera penglihatan bagi guru sekolah. Sebanyak 100 orang guru di tingkat SD, SMP, SMA serta petugas kesehatan dari puskesmas se-Kota Kediri dilibatkan dalam kegiatan ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan seiring perkembangan jaman, penggunaan teknologi digital mencakup segala aspek kehidupan, tak terkecuali di dunia pendidikan. Terlebih, saat ini hp digunakan sebagai salah satu media pembelajaran. Untuk itu, dr Fauzan menyebut perlu adanya pengawasan dalam pemanfaatan teknologi digital, karena hal tersebut juga berpengaruh pada kesehatan indera penglihatan.

“Tidak bisa dipungkiri di era digital saat ini, hp juga menjadi media pembelajaran bagi anak-anak. Dalam pemakaiannya, hal tersebut tentu harus diawasi agar kesehatan indera bisa terjaga. Kalau dinasihati orang tua mereka kadang kurang memperhatikan, tapi kalau guru yang menasihati biasanya lebih patuh,” jelasnya.

Dijelaskan dr Fauzan, workshop ini melibatkan Muhammad Rosyid Ridlo dari RS Daha Husada dan dr. Imam Taufiq dari Dinas Kesehatan
sebagai narasumber yang mepaparkan terkait faktor penyebab, solusi dan cara mengatasi gangguan penglihatan terutama terkait kebiasaan siswa. Selain faktor keturunan, gangguan penglihatan juga bisa dikarenakan pola hidup serta penggunaan laptop dan hp dengan durasi lama.

“Penggunaan laptop, HP itu kan juga berpengaruh terhadap kesehatan indera penglihatan dan ini harus mendapat perhatian serius dari orang tua dan para guru sehingga nantinya bisa melakukan deteksi dini pada siswanya,” tuturnya.

dr Fauzan menambahkan, kegiatan workshop ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta guru sekolah dalam deteksi dini gangguan penglihatan pada siswa di Kota Kediri. “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan guru tentang deteksi dini gangguan penglihatan siswanya sehingga dari situ bisa ditentukan tindakan selanjutnya. Semisal dengan memindah tempat duduk siswa yang memiliki gangguan penglihatan di depan sehingga ia bisa melihat papan tulis dengan jelas,” harapnya.

Jika gangguan penglihatan bisa ditangani sedini mungkin, dr Fauzan berharap hal tersebut bisa mengurangi tingkat keparahan. Selain itu, guru diharapkan bisa memberi edukasi kepada siswa tentang penggunaan gadget secara proporsional.(*/co)